Perilaku otentik siswa dalam belajar
dan guru dalam mengajar perlu terus diupayakan. Siswa idealnya
bersemangat untuk memahami, bahkan memecahkan, berbagai masalah yang
muncul di sekitarnya. Intinya, mereka belajar memahami dan memikirkan
lingkungannya agar siap saat memasuki kehidupan, bukan hanya saat
menghadapi ujian.
Kalaupun ada ujian, itu hanya sebagian
kecil pengalaman belajar yang perlu dilewati. Ujian bukan
segala-galanya, hanya bagian kecil dari proses besar yang namanya
belajar. Hakikat belajar yang sesungguhnya adalah berpikir dalam arti
seluas-luasnya.
Belajar mengondisikan siswa berpikir,
memahami fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang terkait dengan
berbagai disiplin ilmu untuk memecahkan masalah. Itulah esensi belajar
yang sesungguhnya perlu diciptakan guru.
Guru sebagai manajer kelas idealnya
menjadi penyedia fasilitas, penyiap kondisi, pendamping siswa, mitra
siswa, pencerah, dan sumber inspirasi bagi siswa dalam belajar.
Guru idealnya mengondisikan siswa
belajar benar, bukan hanya menjelaskan, memindahkan pengetahuan, serta
mendampingi siswa berlatih mengerjakan soal dan membahasnya.
Kenyataannya, saat ini yang terjadi
sebaliknya. Perilaku otentik guru yang memfasilitasi, menyediakan sumber
belajar, mendampingi siswa belajar berpikir dalam arti yang
seluas-luasnya tereduksi sangat nyata. Guru cenderung hanya menyiapkan
siswa menghadapi ujian.
Bagaimana dengan berbagai ujian yang
diberikan kepada siswa saat ini? Sebenarnya, berlatih mengerjakan
berbagai model soal itu bukan sepenuhnya salah. Akan tetapi, siswa
bersemangat belajar hanya karena ada ujian adalah contoh perilaku yang
tidak otentik.
Sebaliknya, ada atau tidak ada ujian,
siswa bersemangat mencari sumber, membaca, dan mendalaminya adalah
perilaku otentik yang semestinya diciptakan.
Mereka berbuat bukan karena ada ujian,
melainkan karena menyadari bahwa kehidupan yang akan dimasuki
tantangannya semakin berat dan mereka harus bisa bertahan. Guru
memfasilitasi siswa berperilaku otentik bukan karena siswanya akan
menghadapi berbagai ujian, melainkan karena menyadari bahwa siswanya
kelak akan berjuang di tengah masyarakat, menghadapi persoalan yang
semakin kompleks.
Berikut disajikan beberapa ilustrasi.
Ketika siswa harus mempelajari topik koperasi, misalnya, siswa tidak
boleh hanya membaca pengertian dan ciri-ciri koperasi, syarat pendirian
koperasi, dan pasal-pasal dalam Undang-Undang Koperasi. Lebih dari itu,
guru wajib menyediakan beragam bacaan tentang koperasi, termasuk
berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi koperasi di tengah
pertarungan ekonomi global.
Ada contoh-contoh keberhasilan
koperasi di Denmark atau negara-negara lainnya. Ada upaya analisis
kegagalan koperasi di Indonesia. Paling tidak, untuk kawasan ASEAN,
bagaimana kita bisa membawa koperasi benar-benar menjadi saka guru
perekonomian nasional?
Ilustrasi lain, ketika mempelajari
tumbuhan atau tanaman dalam biologi, misalnya tentang tomat, siswa tidak
hanya membaca dan menghafal bahwa tomat itu termasuk tumbuhan monokotil
dan ciri-ciri tumbuhan monokotil, tetapi lebih jauh dari itu.
Siswa diajak membaca beragam teks
untuk memperoleh pemahaman menyeluruh dan mendalam tentang tomat, mulai
dari memilih benih sampai ekspor saus tomat, kemudian mendiskusikan dan
jika mungkin mempraktikkannya.
Dengan tawaran kebijakan dan praktik
pendidikan/pembelajaran yang otentik di atas, apakah ujian tidak
diperlukan lagi? Ujian tetap perlu diadakan.
Hanya saja, semangatnya bukan untuk
menagih ingatan siswa seperti yang terjadi saat ini setelah mereka
membaca dan menghafal paket-paket materi yang kering, melainkan untuk
mengondisikan agar siswa gemar membaca, belajar berpikir secara kritis,
mendalam, dan komprehensif, serta belajar memecahkan berbagai masalah
nyata di sekitarnya.
Dengan demikian, model ujiannya secara
otomatis perlu dimodifikasi, tidak lagi didominasi bentuk pilihan ganda
seperti saat ini. Pilihan ganda sangat dibatasi, itupun hanya untuk
pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya benar-benar hanya satu, tidak ada
jawaban alternatif.
Model pertanyaan yang ditonjolkan adalah analisis kasus, berbasis masalah, berbasis proyek, dan latihan eksperimen. Sekalipun ada sedikit pertanyaan pilihan ganda, pemberian bentuk soal seperti itu semangatnya untuk membiasakan siswa menguasai setiap topik, mulai dari yang sederhana, sekadar data ingatan, misalnya, sampai ke persoalan yang kompleks.
Model pertanyaan yang ditonjolkan adalah analisis kasus, berbasis masalah, berbasis proyek, dan latihan eksperimen. Sekalipun ada sedikit pertanyaan pilihan ganda, pemberian bentuk soal seperti itu semangatnya untuk membiasakan siswa menguasai setiap topik, mulai dari yang sederhana, sekadar data ingatan, misalnya, sampai ke persoalan yang kompleks.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar